Menanamkan karakter terhadap siswa tak segampang menanam pohon, kita tinggal menabur benih, melihat perkembangannya dan memetik hasilnya. Mengapa menanamkan karakter sangat sulit? Pada dasarnya membuat anak pintar itu mudah tetapi membuat anak berkarakter sangat sulit karena ini berhubungan dengan jiwa, dan dari latar belakang keluarga berbeda.
Sulitnya menjadikan anak berkarakter juga karena karakter yang ingin ditanam bukan sebatas nama. Karakter harus diaplikasikan ke perilaku yang sebenarnya. Seperti workshop Penyusunan Perangkat Pembelajaran Pendidikan Karakter yang diadakan LPPM Unisma belum lama ini dan diikuti guru-guru SMP/sederajat se Jawa Timur. Dijelaskan, dalam pendekatan karakter ada beberapa sesei, di antaranya mencoba berbuat, mengklasifikasi nilai yang dikembangkan menjadi memahami nilai, memilih nilai, mencoba nilai, dan membudayakannya.
Sayang dalam aplikasinya di kelas tak semudah yang dibayangkan karena ini terkait dengan karakter anak dari keluarga dan budaya beragam. Lebih penting yang perlu dilakukan guru di kelas adalah metode pembelajaran, bahan ajar, evaluasi, budaya kelas dan guru sebagai model. Demikian yang dipaparkan para narasumber dalam workshop. Dalam pengembangan karakter ini guru bisa mengambil dari berbagai cerita atau dari alam sekitar. Misalnya dalam pelajaran PKN jika guru ingin membentuk anak menjadi anak yang berkarakter peduli terhadap orang lain, guru harus mencari cerita yang menarik.
Misalnya mengamati orang-orang yang berjualan yang memiliki pendapatan sama dengan uang saku siswa setiap hari. Dengan demikian anak diharapkan peduli terhadap orang lain yang kemudian siswa bisa memahami karakter tersebut dan pada gilirannya akan akan mampu bersikap hemat dan tidak konsumtif dan berfoya-foya. Atau, contoh dalam pelajaran IPA, guru bisa mengaitkan dengan alam. Bila guru ingin memberi karakter anak mencintai kebersihan, siswa bisa diajak mengambil sampel di kamar mandi sekolah untuk dilihat kondisi kebersihan di sana. Pada gilirannya nanti anak akan belajar untuk tidak membuang sampah sembarangan. Dari pembelajaran semacam ini anak akan lebih mudah untuk membentuk karakternya. Semoga dari penyusunan perangkat pembelajaran ini anak benar-benar berkarakter.
Sulitnya menjadikan anak berkarakter juga karena karakter yang ingin ditanam bukan sebatas nama. Karakter harus diaplikasikan ke perilaku yang sebenarnya. Seperti workshop Penyusunan Perangkat Pembelajaran Pendidikan Karakter yang diadakan LPPM Unisma belum lama ini dan diikuti guru-guru SMP/sederajat se Jawa Timur. Dijelaskan, dalam pendekatan karakter ada beberapa sesei, di antaranya mencoba berbuat, mengklasifikasi nilai yang dikembangkan menjadi memahami nilai, memilih nilai, mencoba nilai, dan membudayakannya.
Sayang dalam aplikasinya di kelas tak semudah yang dibayangkan karena ini terkait dengan karakter anak dari keluarga dan budaya beragam. Lebih penting yang perlu dilakukan guru di kelas adalah metode pembelajaran, bahan ajar, evaluasi, budaya kelas dan guru sebagai model. Demikian yang dipaparkan para narasumber dalam workshop. Dalam pengembangan karakter ini guru bisa mengambil dari berbagai cerita atau dari alam sekitar. Misalnya dalam pelajaran PKN jika guru ingin membentuk anak menjadi anak yang berkarakter peduli terhadap orang lain, guru harus mencari cerita yang menarik.
Misalnya mengamati orang-orang yang berjualan yang memiliki pendapatan sama dengan uang saku siswa setiap hari. Dengan demikian anak diharapkan peduli terhadap orang lain yang kemudian siswa bisa memahami karakter tersebut dan pada gilirannya akan akan mampu bersikap hemat dan tidak konsumtif dan berfoya-foya. Atau, contoh dalam pelajaran IPA, guru bisa mengaitkan dengan alam. Bila guru ingin memberi karakter anak mencintai kebersihan, siswa bisa diajak mengambil sampel di kamar mandi sekolah untuk dilihat kondisi kebersihan di sana. Pada gilirannya nanti anak akan belajar untuk tidak membuang sampah sembarangan. Dari pembelajaran semacam ini anak akan lebih mudah untuk membentuk karakternya. Semoga dari penyusunan perangkat pembelajaran ini anak benar-benar berkarakter.
Kementerian Pendidikan Nasional mengaku kesulitan menekan jumlah siswa miskin di jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Kepala Bagian Perencanaan dan Penganggaran Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar Kemendiknas Nono Adya Supriatno mengungkapkan, saat ini jumlah siswa miskin di Indonesia hampir mencapai 50 juta.
Jumlah tersebut terdiri dari 27,7 juta siswa di bangku tingkat SD, 10 juta siswa tingkat SMP, dan 7 juta siswa setingkat SMA. Dari jumlah itu, sedikitnya ada sekitar 2,7 juta siswa tingkat SD dan 2 juta siswa setingkat SMP yang terancam putus sekolah.
Menurut Nono, biaya sekolah yang relatif mahal ditengarai menjadi penyebab utama tidak berdayanya para siswa miskin melanjutkan pendidikan ke tingkat selanjutnya. Kesulitan ini semakin berat dengan adanya keharusan membayar uang pangkal, membeli buku tulis, seragam sekolah, dan buku pelajaran. Hal-hal tersebut merupakan beberapa indikator pemicu biaya sekolah menjadi mahal.
"Siswa di SMP, hanya 23 persen yang mampu meneruskan ke tingkat SMA. Sisanya tidak bisa meneruskan, di antaranya ada yang terpaksa bekerja," ujar Nono ketika menjadi narasumber dalam lokakarya "Membedah Pembiayaan Pendidikan", Sabtu (23/7/2011) di Bandung.
Pada umum, menurut Nono, para siswa miskin berasal dari daerah rawan kemiskinan seperti daerah terpencil, pesisir pantai, perkampungan padat penduduk, serta sejumlah tempat di daerah aliran sungai. Untuk menekan angka tersebut, Nono mengaku sudah menganggarkan beasiswa Rp 2,1 triliun. Adapun di tingkat SMP dianggarkan dana Rp 3,9 triliun.
"Jumlah itu di luar anggaran dana bantuan operasional sekolah (BOS) yang tahun ini mencapai Rp 16 triliun,” ujarnya.
Memengaruhi pendidikan tinggi
Dalam kesempatan terpisah, Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) Mustasfirin menyesalkan sulitnya menekan angka siswa putus sekolah. Semakin ironis karena secara umum tingginya angka putus sekolah di jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah berpengaruh pada jumlah siswa yang akan melanjutkan ke bangku perkuliahan. Ia menegaskan, pendidikan menengah menjadi sangat penting untuk menunjukkan tiga hal. Pertama, sebagai penunjang kebangkitan kelas menengah. Kedua, sebagai pondasi pendidikan. Ketiga, sebagai wujud realisasi pembangunan pendidikan itu sendiri.
"Jadi kita sulit bicara mengenai pendidikan tinggi yang bermutu kalau pendidikan menengah tidak diperhatikan," kata Mustasfirin.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Dikti Kemdiknas Haris mengungkapkan, pihaknya selalu berharap mempunyai kualitas pendidikan tinggi sekelas Amerika. Namun, biaya pendidikan di Indonesia yang dinilainya masih sangat murah memengaruhi mutu dan daya saing Dikti. Selain itu, biaya yang murah juga menjadi kendala untuk maju.
"Jika pakai sentimental, saya juga ingin nangis dengan kondisi ini. Menggantung harapan menginjak bumi. Mencerdaskan bangsa itu cita-cita dan kita bergerak ke arah sana. Saya prihatin karena anak miskin sudah gugur di pendidikan menengah," tandasnya.
Sehari sebelumnya, Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh mengatakan, pendidikan yang bermutu harus ditunjang biaya yang sesuai. Pembiayaan pendidikan yang mahal, murah, ataupun gratis bukanlah sebuah masalah. Yang terpenting adalah tidak berimplikasi pada hak-hak dasar.
"Taruhlah wajib belajar 9 tahun, ada indikasi hak dasar. Oleh karena itu, kementerian dan pemerintah daerah harus lebih serius tangani hak-hak dasar. Pasalnya, jika biaya ini sampai di luar batas, hal itu akan berimplikasi dan mulai terkait dengan hak dasar itu sendiri," ujarnya.
Sejumlah guru dan siswa di Kabupaten Bireuen mengaku terbebani dengan diaktifkannya sekolah di bulan Ramadhan.
Sesuai surat keputusan Pendidikan Aceh No.422.2/B.2/186/2011 tentang kalender pendidikan dalam Provinsi Aceh tahun ajaran 2011-2012 ditetapkan selama bulan Ramadhan hingga Idul Fitri 30 Juli hingga 3 September kegiatan belajar mengajar diliburkan.
Kadisbikbudpora Bireuen melalui Kabid Dikmenjur, M Nasir, menjelaskan untuk mengisi kegiatan dalam bulan Ramadhan semua jenjang sekolah wajib melaksanakan kegiatan pengayaan atau pendalaman materi pelajaran agama untuk dilaksanakan sejak 8 sampai 20 Agustus, baik bersifat lomba, ceramah, dan diskusi bidang keagamaan.
Kalangan pengajar menilai, bersekolah dalam bulan itu kurang efektif dan juga dapat menimbulkan efek yang kurang bagus terhadap pelaksanaan puasa atau ibadahnya. Selain itu, libur sekolah dalam puasa sudah tercantum dalam kalender akademik.
“Kami lihat sekolah kurang efektif dan menjadi alasan siswa yang tidak diinginkan nantinya, apalagi siswa yang sekolahnya jauh, jadi saya kira banyak mudharat dibandingkan manfaatnya sekolah di bulan penuh rahman itu,” kata sejumlah guru, tadi sore.
Nuraini, guru SDN 10 Bireuen, tidak menafikan, diaktifkan sekolah pada bulan Ramadhan dapat mengganggu ibadah puasa. Karena, malam harinya melaksanakan tarawih, tadarus, bahkan ada yang baru tidur setelah shalat shubuh. “Saya dengar banyak guru dan siswa mengeluh ada sekolah di bulan puasa,” katanya.
Hal senada dikatakan sejumlah siswa SMA di Bireuen dan umumnya mereka memprotes surat edaran bersama itu. “terus terang para pejabat kita tidak lagi bisa membedakan Aceh dengan yang bukan Aceh, yang kami sayangkan para pemimpin kita juga asal buat edaran itu,” cetus seorang siswa SMA di Bireuen.
Ketua Koalisi Barisan Guru Bersatu (Kobar-GB), Muhamad Jafar, memprotes surat edaran tentang wajib belajar selama Ramadhan kurang efektif atau kalau memang terpaksa harus ada kegiatan di sekolah lebih baik belajar agama seminggu, lalu liburkan saja supaya anak-anak tenang beribadah. “Kita harapkan supaya surat edaran itu dapat ditarik kembali,” ujarnya.
Protes juga datang dari Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Lhoksumawe, Awaludin. Menurutnya, kebijakan Dinas Pendidikan tentang jam sekolah seperti biasa pada bulan puasa agar ditinjau ulang, jam pelajaran ditekankan pada pendidikan agama.
“Saya lihat jam pelajaran Agama Islam empat jam perminggu, jika dilakukan per bulan hanya enam belas jam. Ironisnya, daerah kita pusat pelaksana Syariat Islam secara kaffah, sungguh sangat memalukan dengan daerah lain di Indonesia. Hasil temuan kegiatan yang kita lakukan sangat sedikit siswa SMP maupun SMA yang bisa baca Alquran dan mengerti tentang sholat,” ucapnya.
Sesuai surat keputusan Pendidikan Aceh No.422.2/B.2/186/2011 tentang kalender pendidikan dalam Provinsi Aceh tahun ajaran 2011-2012 ditetapkan selama bulan Ramadhan hingga Idul Fitri 30 Juli hingga 3 September kegiatan belajar mengajar diliburkan.
Kadisbikbudpora Bireuen melalui Kabid Dikmenjur, M Nasir, menjelaskan untuk mengisi kegiatan dalam bulan Ramadhan semua jenjang sekolah wajib melaksanakan kegiatan pengayaan atau pendalaman materi pelajaran agama untuk dilaksanakan sejak 8 sampai 20 Agustus, baik bersifat lomba, ceramah, dan diskusi bidang keagamaan.
Kalangan pengajar menilai, bersekolah dalam bulan itu kurang efektif dan juga dapat menimbulkan efek yang kurang bagus terhadap pelaksanaan puasa atau ibadahnya. Selain itu, libur sekolah dalam puasa sudah tercantum dalam kalender akademik.
“Kami lihat sekolah kurang efektif dan menjadi alasan siswa yang tidak diinginkan nantinya, apalagi siswa yang sekolahnya jauh, jadi saya kira banyak mudharat dibandingkan manfaatnya sekolah di bulan penuh rahman itu,” kata sejumlah guru, tadi sore.
Nuraini, guru SDN 10 Bireuen, tidak menafikan, diaktifkan sekolah pada bulan Ramadhan dapat mengganggu ibadah puasa. Karena, malam harinya melaksanakan tarawih, tadarus, bahkan ada yang baru tidur setelah shalat shubuh. “Saya dengar banyak guru dan siswa mengeluh ada sekolah di bulan puasa,” katanya.
Hal senada dikatakan sejumlah siswa SMA di Bireuen dan umumnya mereka memprotes surat edaran bersama itu. “terus terang para pejabat kita tidak lagi bisa membedakan Aceh dengan yang bukan Aceh, yang kami sayangkan para pemimpin kita juga asal buat edaran itu,” cetus seorang siswa SMA di Bireuen.
Ketua Koalisi Barisan Guru Bersatu (Kobar-GB), Muhamad Jafar, memprotes surat edaran tentang wajib belajar selama Ramadhan kurang efektif atau kalau memang terpaksa harus ada kegiatan di sekolah lebih baik belajar agama seminggu, lalu liburkan saja supaya anak-anak tenang beribadah. “Kita harapkan supaya surat edaran itu dapat ditarik kembali,” ujarnya.
Protes juga datang dari Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Lhoksumawe, Awaludin. Menurutnya, kebijakan Dinas Pendidikan tentang jam sekolah seperti biasa pada bulan puasa agar ditinjau ulang, jam pelajaran ditekankan pada pendidikan agama.
“Saya lihat jam pelajaran Agama Islam empat jam perminggu, jika dilakukan per bulan hanya enam belas jam. Ironisnya, daerah kita pusat pelaksana Syariat Islam secara kaffah, sungguh sangat memalukan dengan daerah lain di Indonesia. Hasil temuan kegiatan yang kita lakukan sangat sedikit siswa SMP maupun SMA yang bisa baca Alquran dan mengerti tentang sholat,” ucapnya.
Ketika sekolah memperkenalkan dan melatih setiap anak masyarakat ke dalam keanggotaan dalam komunitas kecil memenuhinya dengan semangat pelayanan, dan memberikan instrumen arahan diri yang efektif, kita akan memiliki jaminan yang terdalam dan terbaik bagi masyarakat yang lebih besar yang berguna, manis, dan harmonis. (John Dewey dalam Mark K. Smith).
Kalimat tersebut tertulis di buku klasik yang membahas tentang diskusi yang memfokuskan pada komunitas pembelajaran oleh John Dewey memberi informasi betapa pentingnya pendidikan di sekolah. Bila peserta didik diberi kesempatan sama dengan arahan efektif, hal itu akan menjadi jaminan mereka akan bisa menjadi masyarakat yang baik, berguna, manis, dan harmonis.
Perubahan paradigma teori pembelajaran dari kognitif menuju konstruktif diyakini para ahli mampu membuat pengalaman baru peserta didik dalam proses belajar. Harapannya, sekolah mampu menciptakan generasi baru yang baik, berguna, manis, dan harmonis. Pendidikan dewasa ini menitikberatkan pembelajaran berpusat pada peserta didik daripada guru. Kenyataan di lapangan masih banyak guru yang seolah-olah mencekoki ilmu pengetahuan kepada peserta didik. Peserta didik dipandang sebagai objek yang tak memiliki apa-apa dan guru adalah sumber segala ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, peserta didik menjadi pasif.
Teori belajar yang mementingkan pemaknaan pengetahuan, proses hasil konstruksi-intruksi dan menitikberatkan pembelajaran pada peserta didik ini disebut konstruktivisme. Sebelumnya teori pembelajaran yang digunakan adalah kognitivisme dan behaviorisme. Kogntivisme, menekankan perubahan persepsi dan pemahaman, dan proses interksi. Sedang penekanan behaviorisme adalah pada perubahan tingkah laku yang didasarkan pada stimulus dan respons. Dengan kata lain, perubahan paradigma teori belajar diawali dari behaviorisme, kognitivisme, menuju konstruktivisme.
Menilik pembelajaran dari sudut pandang proses, bisa dilihat bahwa segala sesuatu yang berkaitan dengan peserta didik merupakan proses menuju sistem yang kita inginkan. Berikut hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran:
1. Orientasi pembelajaran berpusat pada peserta didik. Dengan orientasi pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, diharapkan mutu pembelajaran lebih berkualitas. Sebab, di dalam proses pembelajaran peserta didik membangun pengetahuan di dalam benaknya sendiri dan menjadikan pengetahuan miliknya sendiri. Dengan demikian, pengetahuan yang dibangun siswa benar-benar melekat tak sekadar paham setelah itu hilang.
2. Perhatian komprehensif pada peserta didik. Di sini guru hendaknya tak menutup mata terhadap permasalahan yang dialami peserta didiknya. Artinya, permasalahan peserta didik tak serta-merta ditangani BK/konselor, tetapi guru juga punya andil menyelesaiakannya.
3. Umpan balik, penguatan, dan motivasi. Umpan balik dan penguatan menjadi teknik yang tak bisa dilepaskan, sebab keduanya bisa memicu semangat dan motivasi peserta didik. Motivasi bisa dilakukan dengan percontohan. Banyak contoh motivasi bisa ditemukan di buku atau acara televisi. Misalnya Kick Andy, bagaimana seorang dari keluarga tak mampu akhirnya bisa mengentaskan diri menjadi sosok sukses.
Kalimat tersebut tertulis di buku klasik yang membahas tentang diskusi yang memfokuskan pada komunitas pembelajaran oleh John Dewey memberi informasi betapa pentingnya pendidikan di sekolah. Bila peserta didik diberi kesempatan sama dengan arahan efektif, hal itu akan menjadi jaminan mereka akan bisa menjadi masyarakat yang baik, berguna, manis, dan harmonis.
Perubahan paradigma teori pembelajaran dari kognitif menuju konstruktif diyakini para ahli mampu membuat pengalaman baru peserta didik dalam proses belajar. Harapannya, sekolah mampu menciptakan generasi baru yang baik, berguna, manis, dan harmonis. Pendidikan dewasa ini menitikberatkan pembelajaran berpusat pada peserta didik daripada guru. Kenyataan di lapangan masih banyak guru yang seolah-olah mencekoki ilmu pengetahuan kepada peserta didik. Peserta didik dipandang sebagai objek yang tak memiliki apa-apa dan guru adalah sumber segala ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, peserta didik menjadi pasif.
Teori belajar yang mementingkan pemaknaan pengetahuan, proses hasil konstruksi-intruksi dan menitikberatkan pembelajaran pada peserta didik ini disebut konstruktivisme. Sebelumnya teori pembelajaran yang digunakan adalah kognitivisme dan behaviorisme. Kogntivisme, menekankan perubahan persepsi dan pemahaman, dan proses interksi. Sedang penekanan behaviorisme adalah pada perubahan tingkah laku yang didasarkan pada stimulus dan respons. Dengan kata lain, perubahan paradigma teori belajar diawali dari behaviorisme, kognitivisme, menuju konstruktivisme.
Menilik pembelajaran dari sudut pandang proses, bisa dilihat bahwa segala sesuatu yang berkaitan dengan peserta didik merupakan proses menuju sistem yang kita inginkan. Berikut hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran:
1. Orientasi pembelajaran berpusat pada peserta didik. Dengan orientasi pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, diharapkan mutu pembelajaran lebih berkualitas. Sebab, di dalam proses pembelajaran peserta didik membangun pengetahuan di dalam benaknya sendiri dan menjadikan pengetahuan miliknya sendiri. Dengan demikian, pengetahuan yang dibangun siswa benar-benar melekat tak sekadar paham setelah itu hilang.
2. Perhatian komprehensif pada peserta didik. Di sini guru hendaknya tak menutup mata terhadap permasalahan yang dialami peserta didiknya. Artinya, permasalahan peserta didik tak serta-merta ditangani BK/konselor, tetapi guru juga punya andil menyelesaiakannya.
3. Umpan balik, penguatan, dan motivasi. Umpan balik dan penguatan menjadi teknik yang tak bisa dilepaskan, sebab keduanya bisa memicu semangat dan motivasi peserta didik. Motivasi bisa dilakukan dengan percontohan. Banyak contoh motivasi bisa ditemukan di buku atau acara televisi. Misalnya Kick Andy, bagaimana seorang dari keluarga tak mampu akhirnya bisa mengentaskan diri menjadi sosok sukses.
