Sejumlah guru dan siswa di Kabupaten Bireuen mengaku terbebani dengan diaktifkannya sekolah di bulan Ramadhan.
Sesuai surat keputusan Pendidikan Aceh No.422.2/B.2/186/2011 tentang kalender pendidikan dalam Provinsi Aceh tahun ajaran 2011-2012 ditetapkan selama bulan Ramadhan hingga Idul Fitri 30 Juli hingga 3 September kegiatan belajar mengajar diliburkan.
Kadisbikbudpora Bireuen melalui Kabid Dikmenjur, M Nasir, menjelaskan untuk mengisi kegiatan dalam bulan Ramadhan semua jenjang sekolah wajib melaksanakan kegiatan pengayaan atau pendalaman materi pelajaran agama untuk dilaksanakan sejak 8 sampai 20 Agustus, baik bersifat lomba, ceramah, dan diskusi bidang keagamaan.
Kalangan pengajar menilai, bersekolah dalam bulan itu kurang efektif dan juga dapat menimbulkan efek yang kurang bagus terhadap pelaksanaan puasa atau ibadahnya. Selain itu, libur sekolah dalam puasa sudah tercantum dalam kalender akademik.
“Kami lihat sekolah kurang efektif dan menjadi alasan siswa yang tidak diinginkan nantinya, apalagi siswa yang sekolahnya jauh, jadi saya kira banyak mudharat dibandingkan manfaatnya sekolah di bulan penuh rahman itu,” kata sejumlah guru, tadi sore.
Nuraini, guru SDN 10 Bireuen, tidak menafikan, diaktifkan sekolah pada bulan Ramadhan dapat mengganggu ibadah puasa. Karena, malam harinya melaksanakan tarawih, tadarus, bahkan ada yang baru tidur setelah shalat shubuh. “Saya dengar banyak guru dan siswa mengeluh ada sekolah di bulan puasa,” katanya.
Hal senada dikatakan sejumlah siswa SMA di Bireuen dan umumnya mereka memprotes surat edaran bersama itu. “terus terang para pejabat kita tidak lagi bisa membedakan Aceh dengan yang bukan Aceh, yang kami sayangkan para pemimpin kita juga asal buat edaran itu,” cetus seorang siswa SMA di Bireuen.
Ketua Koalisi Barisan Guru Bersatu (Kobar-GB), Muhamad Jafar, memprotes surat edaran tentang wajib belajar selama Ramadhan kurang efektif atau kalau memang terpaksa harus ada kegiatan di sekolah lebih baik belajar agama seminggu, lalu liburkan saja supaya anak-anak tenang beribadah. “Kita harapkan supaya surat edaran itu dapat ditarik kembali,” ujarnya.
Protes juga datang dari Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Lhoksumawe, Awaludin. Menurutnya, kebijakan Dinas Pendidikan tentang jam sekolah seperti biasa pada bulan puasa agar ditinjau ulang, jam pelajaran ditekankan pada pendidikan agama.
“Saya lihat jam pelajaran Agama Islam empat jam perminggu, jika dilakukan per bulan hanya enam belas jam. Ironisnya, daerah kita pusat pelaksana Syariat Islam secara kaffah, sungguh sangat memalukan dengan daerah lain di Indonesia. Hasil temuan kegiatan yang kita lakukan sangat sedikit siswa SMP maupun SMA yang bisa baca Alquran dan mengerti tentang sholat,” ucapnya.
Sesuai surat keputusan Pendidikan Aceh No.422.2/B.2/186/2011 tentang kalender pendidikan dalam Provinsi Aceh tahun ajaran 2011-2012 ditetapkan selama bulan Ramadhan hingga Idul Fitri 30 Juli hingga 3 September kegiatan belajar mengajar diliburkan.
Kadisbikbudpora Bireuen melalui Kabid Dikmenjur, M Nasir, menjelaskan untuk mengisi kegiatan dalam bulan Ramadhan semua jenjang sekolah wajib melaksanakan kegiatan pengayaan atau pendalaman materi pelajaran agama untuk dilaksanakan sejak 8 sampai 20 Agustus, baik bersifat lomba, ceramah, dan diskusi bidang keagamaan.
Kalangan pengajar menilai, bersekolah dalam bulan itu kurang efektif dan juga dapat menimbulkan efek yang kurang bagus terhadap pelaksanaan puasa atau ibadahnya. Selain itu, libur sekolah dalam puasa sudah tercantum dalam kalender akademik.
“Kami lihat sekolah kurang efektif dan menjadi alasan siswa yang tidak diinginkan nantinya, apalagi siswa yang sekolahnya jauh, jadi saya kira banyak mudharat dibandingkan manfaatnya sekolah di bulan penuh rahman itu,” kata sejumlah guru, tadi sore.
Nuraini, guru SDN 10 Bireuen, tidak menafikan, diaktifkan sekolah pada bulan Ramadhan dapat mengganggu ibadah puasa. Karena, malam harinya melaksanakan tarawih, tadarus, bahkan ada yang baru tidur setelah shalat shubuh. “Saya dengar banyak guru dan siswa mengeluh ada sekolah di bulan puasa,” katanya.
Hal senada dikatakan sejumlah siswa SMA di Bireuen dan umumnya mereka memprotes surat edaran bersama itu. “terus terang para pejabat kita tidak lagi bisa membedakan Aceh dengan yang bukan Aceh, yang kami sayangkan para pemimpin kita juga asal buat edaran itu,” cetus seorang siswa SMA di Bireuen.
Ketua Koalisi Barisan Guru Bersatu (Kobar-GB), Muhamad Jafar, memprotes surat edaran tentang wajib belajar selama Ramadhan kurang efektif atau kalau memang terpaksa harus ada kegiatan di sekolah lebih baik belajar agama seminggu, lalu liburkan saja supaya anak-anak tenang beribadah. “Kita harapkan supaya surat edaran itu dapat ditarik kembali,” ujarnya.
Protes juga datang dari Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Lhoksumawe, Awaludin. Menurutnya, kebijakan Dinas Pendidikan tentang jam sekolah seperti biasa pada bulan puasa agar ditinjau ulang, jam pelajaran ditekankan pada pendidikan agama.
“Saya lihat jam pelajaran Agama Islam empat jam perminggu, jika dilakukan per bulan hanya enam belas jam. Ironisnya, daerah kita pusat pelaksana Syariat Islam secara kaffah, sungguh sangat memalukan dengan daerah lain di Indonesia. Hasil temuan kegiatan yang kita lakukan sangat sedikit siswa SMP maupun SMA yang bisa baca Alquran dan mengerti tentang sholat,” ucapnya.
PONDOK Pesantren Al-Furqon berdiri megah di Jln. Raya Barat Singaparna, Kab. Tasikmalaya. Dari luar sih, kelihatannya kecil, tetapi setelah "GM" masuk, ternyata sangat luas. Di dalam ada dua kompleks asrama, putra dan putri, masing-masing berlantai tiga dengan 17 ruang. Buat kegiatan belajar mengajar (KBM), di belakang asrama terdapat satu komplek bangunan megah berlantai dua dengan 18 ruang. Setiap ruang dilengkapi infocus, whiteboard. Udah gitu, di bagian belaakangnya lagi terdapat lapangan olahraga yang cukup luas plus satu kompleks lagi bangunan yang masih dalam tahap penyelesaian. Ruangan ini pun akan digunakan sebagai ruang KBM. Nah, buat mendukung aktivitas KBM, Al-Furqon juga menyediakan laboratorium komputer, bahasa, IPA, dan perpustakaan.
Kalian pasti mau tahu dong apa kegiatan santri Al-Furqon setiap harinya? Pasti kalian mengira mereka belajar ngaji terus menerus. Dugaan kaliah salah, tuh. Belajar di Al-Furqon tuh enggak ada bedanya dengan cara sekolah umum. Dari pagi hingga siang ya masuk sekolah, belajar di kelas sebagaimana umumnya siswa-siswa SMP dan SMA belajar.
Bedanya hanya sedikit, setelah mereka keluar sekolah, mereka enggak bisa pulang ke rumah, tetapi masuk ke asrama yang sudah disediakan. Istirahat, makan, salat Zuhur, lalu tidur. Setelah itu salat Asar lalu belajar sampai menjelang magrib, belajar mengaji sampai Isya. Lalu masuk Asrama untuk belajar, kayak di rumah. Pas, pukul 22.00 WI, enggak boleh enggak semua santri mesti tidur.
Mereka juga biasa melaksanakan eskul di sore. Mereka bisa memilih eskul yang mereka sukai. "Di sini tuh ada futsal, bola voli, badminton, tenis meja, basket, paskibra, majalah dinding. Jadi tinggal pilih mana yang suka," ujar Ketua Organisasi Pelajar Pesantren Al-Furqon (OPPAF), Erma Rahmawiyah, pada "GM", beberapa waktu lalu.
O, ya, ada pula aktivitas lain buat mengekspresikan bakat dan minat santri. Ada Anak Lingkungan Seni Sastra (ALAS) buat yang suka bikin puisi dan cerpen, ada Al-Furqon Post bagi mereka yang suka jurnalistik selain mading, ada Media Olah Raga Santri (Most) ajang prestasi olah raga, ada juga Insan Seni Al-Furqan (Insaf) bagi mereka yang suka berkesenian, dan Hizbul Wathon bagi mereka yang cinta pada alam, kayak pramuka gitu.
Soal bahasa? Kalau santri pandai bahasa Arab, kayaknya udah enggak aneh, deh. Semua pesantren pasti belajar bahasa Arab. Nah, di Al-Furqon lain. Setiap santri wajib berbahasa Inggris pula. Bahasa wajibnya ada dua : bahasa Inggris sama bahasa Arab. Jadi, jangan-coba-coba deh berbicara dengan bahasa Indonesia apalagi bahasa Daerah.
"Pesantren hanya memberi toleransi 3 bulan berbahasa Indonesia buat siswa kelas satu. Setelah itu tidak ada pilihan lain kecuali bahasa Inggeris ama bahasa Arab," tambah Erma.
Trus, kalo enggak bisa? Ya, belajar! Enggak ada alasan enggak bisa. Pokoknya, kata ukhti Erma, ucapkanlah sebisanya meski mungkin awalnya agak ngaco. "Semua orang begitu kok, awalnya!" tambanya lagi.
Wah, wah, wah... berat juga ya. Terus kalo mereka ke luar pondok dan bertemu dengan ortu, mesti berbahasa Inggris dan Arab pula? Enggak lah, kalo ketemu ortu ya menggunakan bahasa Indonesia, lah.
Pola kayak begini tuh menuntut santri berdisplin. Aktivitas mereka betur-betur teratur dan terpola. Kapan harus belajar, kapan makan, kapan salat, kapan tidur. Jenuh, dong? "Enggak juga sih, kan pada hari Jumat kami libur. Kami boleh keluar pondok pada hari itu," tukas Erma.
Oke, deh. Selamat beraktivitas. Jadilah ukwat dan ikhwan yang saleh dan salehah.
Kalian pasti mau tahu dong apa kegiatan santri Al-Furqon setiap harinya? Pasti kalian mengira mereka belajar ngaji terus menerus. Dugaan kaliah salah, tuh. Belajar di Al-Furqon tuh enggak ada bedanya dengan cara sekolah umum. Dari pagi hingga siang ya masuk sekolah, belajar di kelas sebagaimana umumnya siswa-siswa SMP dan SMA belajar.
Bedanya hanya sedikit, setelah mereka keluar sekolah, mereka enggak bisa pulang ke rumah, tetapi masuk ke asrama yang sudah disediakan. Istirahat, makan, salat Zuhur, lalu tidur. Setelah itu salat Asar lalu belajar sampai menjelang magrib, belajar mengaji sampai Isya. Lalu masuk Asrama untuk belajar, kayak di rumah. Pas, pukul 22.00 WI, enggak boleh enggak semua santri mesti tidur.
Mereka juga biasa melaksanakan eskul di sore. Mereka bisa memilih eskul yang mereka sukai. "Di sini tuh ada futsal, bola voli, badminton, tenis meja, basket, paskibra, majalah dinding. Jadi tinggal pilih mana yang suka," ujar Ketua Organisasi Pelajar Pesantren Al-Furqon (OPPAF), Erma Rahmawiyah, pada "GM", beberapa waktu lalu.
O, ya, ada pula aktivitas lain buat mengekspresikan bakat dan minat santri. Ada Anak Lingkungan Seni Sastra (ALAS) buat yang suka bikin puisi dan cerpen, ada Al-Furqon Post bagi mereka yang suka jurnalistik selain mading, ada Media Olah Raga Santri (Most) ajang prestasi olah raga, ada juga Insan Seni Al-Furqan (Insaf) bagi mereka yang suka berkesenian, dan Hizbul Wathon bagi mereka yang cinta pada alam, kayak pramuka gitu.
Soal bahasa? Kalau santri pandai bahasa Arab, kayaknya udah enggak aneh, deh. Semua pesantren pasti belajar bahasa Arab. Nah, di Al-Furqon lain. Setiap santri wajib berbahasa Inggris pula. Bahasa wajibnya ada dua : bahasa Inggris sama bahasa Arab. Jadi, jangan-coba-coba deh berbicara dengan bahasa Indonesia apalagi bahasa Daerah.
"Pesantren hanya memberi toleransi 3 bulan berbahasa Indonesia buat siswa kelas satu. Setelah itu tidak ada pilihan lain kecuali bahasa Inggeris ama bahasa Arab," tambah Erma.
Trus, kalo enggak bisa? Ya, belajar! Enggak ada alasan enggak bisa. Pokoknya, kata ukhti Erma, ucapkanlah sebisanya meski mungkin awalnya agak ngaco. "Semua orang begitu kok, awalnya!" tambanya lagi.
Wah, wah, wah... berat juga ya. Terus kalo mereka ke luar pondok dan bertemu dengan ortu, mesti berbahasa Inggris dan Arab pula? Enggak lah, kalo ketemu ortu ya menggunakan bahasa Indonesia, lah.
Pola kayak begini tuh menuntut santri berdisplin. Aktivitas mereka betur-betur teratur dan terpola. Kapan harus belajar, kapan makan, kapan salat, kapan tidur. Jenuh, dong? "Enggak juga sih, kan pada hari Jumat kami libur. Kami boleh keluar pondok pada hari itu," tukas Erma.
Oke, deh. Selamat beraktivitas. Jadilah ukwat dan ikhwan yang saleh dan salehah.
PONDOK Pesantren Al-Furqon berdiri megah di Jln. Raya Barat Singaparna, Kab. Tasikmalaya. Dari luar sih, kelihatannya kecil, tetapi setelah "GM" masuk, ternyata sangat luas. Di dalam ada dua kompleks asrama, putra dan putri, masing-masing berlantai tiga dengan 17 ruang. Buat kegiatan belajar mengajar (KBM), di belakang asrama terdapat satu komplek bangunan megah berlantai dua dengan 18 ruang. Setiap ruang dilengkapi infocus, whiteboard. Udah gitu, di bagian belaakangnya lagi terdapat lapangan olahraga yang cukup luas plus satu kompleks lagi bangunan yang masih dalam tahap penyelesaian. Ruangan ini pun akan digunakan sebagai ruang KBM. Nah, buat mendukung aktivitas KBM, Al-Furqon juga menyediakan laboratorium komputer, bahasa, IPA, dan perpustakaan.
Kalian pasti mau tahu dong apa kegiatan santri Al-Furqon setiap harinya? Pasti kalian mengira mereka belajar ngaji terus menerus. Dugaan kaliah salah, tuh. Belajar di Al-Furqon tuh enggak ada bedanya dengan cara sekolah umum. Dari pagi hingga siang ya masuk sekolah, belajar di kelas sebagaimana umumnya siswa-siswa SMP dan SMA belajar.
Bedanya hanya sedikit, setelah mereka keluar sekolah, mereka enggak bisa pulang ke rumah, tetapi masuk ke asrama yang sudah disediakan. Istirahat, makan, salat Zuhur, lalu tidur. Setelah itu salat Asar lalu belajar sampai menjelang magrib, belajar mengaji sampai Isya. Lalu masuk Asrama untuk belajar, kayak di rumah. Pas, pukul 22.00 WI, enggak boleh enggak semua santri mesti tidur.
Mereka juga biasa melaksanakan eskul di sore. Mereka bisa memilih eskul yang mereka sukai. "Di sini tuh ada futsal, bola voli, badminton, tenis meja, basket, paskibra, majalah dinding. Jadi tinggal pilih mana yang suka," ujar Ketua Organisasi Pelajar Pesantren Al-Furqon (OPPAF), Erma Rahmawiyah, pada "GM", beberapa waktu lalu.
O, ya, ada pula aktivitas lain buat mengekspresikan bakat dan minat santri. Ada Anak Lingkungan Seni Sastra (ALAS) buat yang suka bikin puisi dan cerpen, ada Al-Furqon Post bagi mereka yang suka jurnalistik selain mading, ada Media Olah Raga Santri (Most) ajang prestasi olah raga, ada juga Insan Seni Al-Furqan (Insaf) bagi mereka yang suka berkesenian, dan Hizbul Wathon bagi mereka yang cinta pada alam, kayak pramuka gitu.
Soal bahasa? Kalau santri pandai bahasa Arab, kayaknya udah enggak aneh, deh. Semua pesantren pasti belajar bahasa Arab. Nah, di Al-Furqon lain. Setiap santri wajib berbahasa Inggris pula. Bahasa wajibnya ada dua : bahasa Inggris sama bahasa Arab. Jadi, jangan-coba-coba deh berbicara dengan bahasa Indonesia apalagi bahasa Daerah.
"Pesantren hanya memberi toleransi 3 bulan berbahasa Indonesia buat siswa kelas satu. Setelah itu tidak ada pilihan lain kecuali bahasa Inggeris ama bahasa Arab," tambah Erma.
Trus, kalo enggak bisa? Ya, belajar! Enggak ada alasan enggak bisa. Pokoknya, kata ukhti Erma, ucapkanlah sebisanya meski mungkin awalnya agak ngaco. "Semua orang begitu kok, awalnya!" tambanya lagi.
Wah, wah, wah... berat juga ya. Terus kalo mereka ke luar pondok dan bertemu dengan ortu, mesti berbahasa Inggris dan Arab pula? Enggak lah, kalo ketemu ortu ya menggunakan bahasa Indonesia, lah.
Pola kayak begini tuh menuntut santri berdisplin. Aktivitas mereka betur-betur teratur dan terpola. Kapan harus belajar, kapan makan, kapan salat, kapan tidur. Jenuh, dong? "Enggak juga sih, kan pada hari Jumat kami libur. Kami boleh keluar pondok pada hari itu," tukas Erma.
Oke, deh. Selamat beraktivitas. Jadilah ukwat dan ikhwan yang saleh dan salehah.
Kalian pasti mau tahu dong apa kegiatan santri Al-Furqon setiap harinya? Pasti kalian mengira mereka belajar ngaji terus menerus. Dugaan kaliah salah, tuh. Belajar di Al-Furqon tuh enggak ada bedanya dengan cara sekolah umum. Dari pagi hingga siang ya masuk sekolah, belajar di kelas sebagaimana umumnya siswa-siswa SMP dan SMA belajar.
Bedanya hanya sedikit, setelah mereka keluar sekolah, mereka enggak bisa pulang ke rumah, tetapi masuk ke asrama yang sudah disediakan. Istirahat, makan, salat Zuhur, lalu tidur. Setelah itu salat Asar lalu belajar sampai menjelang magrib, belajar mengaji sampai Isya. Lalu masuk Asrama untuk belajar, kayak di rumah. Pas, pukul 22.00 WI, enggak boleh enggak semua santri mesti tidur.
Mereka juga biasa melaksanakan eskul di sore. Mereka bisa memilih eskul yang mereka sukai. "Di sini tuh ada futsal, bola voli, badminton, tenis meja, basket, paskibra, majalah dinding. Jadi tinggal pilih mana yang suka," ujar Ketua Organisasi Pelajar Pesantren Al-Furqon (OPPAF), Erma Rahmawiyah, pada "GM", beberapa waktu lalu.
O, ya, ada pula aktivitas lain buat mengekspresikan bakat dan minat santri. Ada Anak Lingkungan Seni Sastra (ALAS) buat yang suka bikin puisi dan cerpen, ada Al-Furqon Post bagi mereka yang suka jurnalistik selain mading, ada Media Olah Raga Santri (Most) ajang prestasi olah raga, ada juga Insan Seni Al-Furqan (Insaf) bagi mereka yang suka berkesenian, dan Hizbul Wathon bagi mereka yang cinta pada alam, kayak pramuka gitu.
Soal bahasa? Kalau santri pandai bahasa Arab, kayaknya udah enggak aneh, deh. Semua pesantren pasti belajar bahasa Arab. Nah, di Al-Furqon lain. Setiap santri wajib berbahasa Inggris pula. Bahasa wajibnya ada dua : bahasa Inggris sama bahasa Arab. Jadi, jangan-coba-coba deh berbicara dengan bahasa Indonesia apalagi bahasa Daerah.
"Pesantren hanya memberi toleransi 3 bulan berbahasa Indonesia buat siswa kelas satu. Setelah itu tidak ada pilihan lain kecuali bahasa Inggeris ama bahasa Arab," tambah Erma.
Trus, kalo enggak bisa? Ya, belajar! Enggak ada alasan enggak bisa. Pokoknya, kata ukhti Erma, ucapkanlah sebisanya meski mungkin awalnya agak ngaco. "Semua orang begitu kok, awalnya!" tambanya lagi.
Wah, wah, wah... berat juga ya. Terus kalo mereka ke luar pondok dan bertemu dengan ortu, mesti berbahasa Inggris dan Arab pula? Enggak lah, kalo ketemu ortu ya menggunakan bahasa Indonesia, lah.
Pola kayak begini tuh menuntut santri berdisplin. Aktivitas mereka betur-betur teratur dan terpola. Kapan harus belajar, kapan makan, kapan salat, kapan tidur. Jenuh, dong? "Enggak juga sih, kan pada hari Jumat kami libur. Kami boleh keluar pondok pada hari itu," tukas Erma.
Oke, deh. Selamat beraktivitas. Jadilah ukwat dan ikhwan yang saleh dan salehah.
Ketika sekolah memperkenalkan dan melatih setiap anak masyarakat ke dalam keanggotaan dalam komunitas kecil memenuhinya dengan semangat pelayanan, dan memberikan instrumen arahan diri yang efektif, kita akan memiliki jaminan yang terdalam dan terbaik bagi masyarakat yang lebih besar yang berguna, manis, dan harmonis. (John Dewey dalam Mark K. Smith).
Kalimat tersebut tertulis di buku klasik yang membahas tentang diskusi yang memfokuskan pada komunitas pembelajaran oleh John Dewey memberi informasi betapa pentingnya pendidikan di sekolah. Bila peserta didik diberi kesempatan sama dengan arahan efektif, hal itu akan menjadi jaminan mereka akan bisa menjadi masyarakat yang baik, berguna, manis, dan harmonis.
Perubahan paradigma teori pembelajaran dari kognitif menuju konstruktif diyakini para ahli mampu membuat pengalaman baru peserta didik dalam proses belajar. Harapannya, sekolah mampu menciptakan generasi baru yang baik, berguna, manis, dan harmonis. Pendidikan dewasa ini menitikberatkan pembelajaran berpusat pada peserta didik daripada guru. Kenyataan di lapangan masih banyak guru yang seolah-olah mencekoki ilmu pengetahuan kepada peserta didik. Peserta didik dipandang sebagai objek yang tak memiliki apa-apa dan guru adalah sumber segala ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, peserta didik menjadi pasif.
Teori belajar yang mementingkan pemaknaan pengetahuan, proses hasil konstruksi-intruksi dan menitikberatkan pembelajaran pada peserta didik ini disebut konstruktivisme. Sebelumnya teori pembelajaran yang digunakan adalah kognitivisme dan behaviorisme. Kogntivisme, menekankan perubahan persepsi dan pemahaman, dan proses interksi. Sedang penekanan behaviorisme adalah pada perubahan tingkah laku yang didasarkan pada stimulus dan respons. Dengan kata lain, perubahan paradigma teori belajar diawali dari behaviorisme, kognitivisme, menuju konstruktivisme.
Menilik pembelajaran dari sudut pandang proses, bisa dilihat bahwa segala sesuatu yang berkaitan dengan peserta didik merupakan proses menuju sistem yang kita inginkan. Berikut hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran:
1. Orientasi pembelajaran berpusat pada peserta didik. Dengan orientasi pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, diharapkan mutu pembelajaran lebih berkualitas. Sebab, di dalam proses pembelajaran peserta didik membangun pengetahuan di dalam benaknya sendiri dan menjadikan pengetahuan miliknya sendiri. Dengan demikian, pengetahuan yang dibangun siswa benar-benar melekat tak sekadar paham setelah itu hilang.
2. Perhatian komprehensif pada peserta didik. Di sini guru hendaknya tak menutup mata terhadap permasalahan yang dialami peserta didiknya. Artinya, permasalahan peserta didik tak serta-merta ditangani BK/konselor, tetapi guru juga punya andil menyelesaiakannya.
3. Umpan balik, penguatan, dan motivasi. Umpan balik dan penguatan menjadi teknik yang tak bisa dilepaskan, sebab keduanya bisa memicu semangat dan motivasi peserta didik. Motivasi bisa dilakukan dengan percontohan. Banyak contoh motivasi bisa ditemukan di buku atau acara televisi. Misalnya Kick Andy, bagaimana seorang dari keluarga tak mampu akhirnya bisa mengentaskan diri menjadi sosok sukses.
Kalimat tersebut tertulis di buku klasik yang membahas tentang diskusi yang memfokuskan pada komunitas pembelajaran oleh John Dewey memberi informasi betapa pentingnya pendidikan di sekolah. Bila peserta didik diberi kesempatan sama dengan arahan efektif, hal itu akan menjadi jaminan mereka akan bisa menjadi masyarakat yang baik, berguna, manis, dan harmonis.
Perubahan paradigma teori pembelajaran dari kognitif menuju konstruktif diyakini para ahli mampu membuat pengalaman baru peserta didik dalam proses belajar. Harapannya, sekolah mampu menciptakan generasi baru yang baik, berguna, manis, dan harmonis. Pendidikan dewasa ini menitikberatkan pembelajaran berpusat pada peserta didik daripada guru. Kenyataan di lapangan masih banyak guru yang seolah-olah mencekoki ilmu pengetahuan kepada peserta didik. Peserta didik dipandang sebagai objek yang tak memiliki apa-apa dan guru adalah sumber segala ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, peserta didik menjadi pasif.
Teori belajar yang mementingkan pemaknaan pengetahuan, proses hasil konstruksi-intruksi dan menitikberatkan pembelajaran pada peserta didik ini disebut konstruktivisme. Sebelumnya teori pembelajaran yang digunakan adalah kognitivisme dan behaviorisme. Kogntivisme, menekankan perubahan persepsi dan pemahaman, dan proses interksi. Sedang penekanan behaviorisme adalah pada perubahan tingkah laku yang didasarkan pada stimulus dan respons. Dengan kata lain, perubahan paradigma teori belajar diawali dari behaviorisme, kognitivisme, menuju konstruktivisme.
Menilik pembelajaran dari sudut pandang proses, bisa dilihat bahwa segala sesuatu yang berkaitan dengan peserta didik merupakan proses menuju sistem yang kita inginkan. Berikut hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran:
1. Orientasi pembelajaran berpusat pada peserta didik. Dengan orientasi pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, diharapkan mutu pembelajaran lebih berkualitas. Sebab, di dalam proses pembelajaran peserta didik membangun pengetahuan di dalam benaknya sendiri dan menjadikan pengetahuan miliknya sendiri. Dengan demikian, pengetahuan yang dibangun siswa benar-benar melekat tak sekadar paham setelah itu hilang.
2. Perhatian komprehensif pada peserta didik. Di sini guru hendaknya tak menutup mata terhadap permasalahan yang dialami peserta didiknya. Artinya, permasalahan peserta didik tak serta-merta ditangani BK/konselor, tetapi guru juga punya andil menyelesaiakannya.
3. Umpan balik, penguatan, dan motivasi. Umpan balik dan penguatan menjadi teknik yang tak bisa dilepaskan, sebab keduanya bisa memicu semangat dan motivasi peserta didik. Motivasi bisa dilakukan dengan percontohan. Banyak contoh motivasi bisa ditemukan di buku atau acara televisi. Misalnya Kick Andy, bagaimana seorang dari keluarga tak mampu akhirnya bisa mengentaskan diri menjadi sosok sukses.
Ketika sekolah memperkenalkan dan melatih setiap anak masyarakat ke dalam keanggotaan dalam komunitas kecil memenuhinya dengan semangat pelayanan, dan memberikan instrumen arahan diri yang efektif, kita akan memiliki jaminan yang terdalam dan terbaik bagi masyarakat yang lebih besar yang berguna, manis, dan harmonis. (John Dewey dalam Mark K. Smith).
Kalimat tersebut tertulis di buku klasik yang membahas tentang diskusi yang memfokuskan pada komunitas pembelajaran oleh John Dewey memberi informasi betapa pentingnya pendidikan di sekolah. Bila peserta didik diberi kesempatan sama dengan arahan efektif, hal itu akan menjadi jaminan mereka akan bisa menjadi masyarakat yang baik, berguna, manis, dan harmonis.
Perubahan paradigma teori pembelajaran dari kognitif menuju konstruktif diyakini para ahli mampu membuat pengalaman baru peserta didik dalam proses belajar. Harapannya, sekolah mampu menciptakan generasi baru yang baik, berguna, manis, dan harmonis. Pendidikan dewasa ini menitikberatkan pembelajaran berpusat pada peserta didik daripada guru. Kenyataan di lapangan masih banyak guru yang seolah-olah mencekoki ilmu pengetahuan kepada peserta didik. Peserta didik dipandang sebagai objek yang tak memiliki apa-apa dan guru adalah sumber segala ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, peserta didik menjadi pasif.
Teori belajar yang mementingkan pemaknaan pengetahuan, proses hasil konstruksi-intruksi dan menitikberatkan pembelajaran pada peserta didik ini disebut konstruktivisme. Sebelumnya teori pembelajaran yang digunakan adalah kognitivisme dan behaviorisme. Kogntivisme, menekankan perubahan persepsi dan pemahaman, dan proses interksi. Sedang penekanan behaviorisme adalah pada perubahan tingkah laku yang didasarkan pada stimulus dan respons. Dengan kata lain, perubahan paradigma teori belajar diawali dari behaviorisme, kognitivisme, menuju konstruktivisme.
Menilik pembelajaran dari sudut pandang proses, bisa dilihat bahwa segala sesuatu yang berkaitan dengan peserta didik merupakan proses menuju sistem yang kita inginkan. Berikut hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran:
1. Orientasi pembelajaran berpusat pada peserta didik. Dengan orientasi pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, diharapkan mutu pembelajaran lebih berkualitas. Sebab, di dalam proses pembelajaran peserta didik membangun pengetahuan di dalam benaknya sendiri dan menjadikan pengetahuan miliknya sendiri. Dengan demikian, pengetahuan yang dibangun siswa benar-benar melekat tak sekadar paham setelah itu hilang.
2. Perhatian komprehensif pada peserta didik. Di sini guru hendaknya tak menutup mata terhadap permasalahan yang dialami peserta didiknya. Artinya, permasalahan peserta didik tak serta-merta ditangani BK/konselor, tetapi guru juga punya andil menyelesaiakannya.
3. Umpan balik, penguatan, dan motivasi. Umpan balik dan penguatan menjadi teknik yang tak bisa dilepaskan, sebab keduanya bisa memicu semangat dan motivasi peserta didik. Motivasi bisa dilakukan dengan percontohan. Banyak contoh motivasi bisa ditemukan di buku atau acara televisi. Misalnya Kick Andy, bagaimana seorang dari keluarga tak mampu akhirnya bisa mengentaskan diri menjadi sosok sukses.
Kalimat tersebut tertulis di buku klasik yang membahas tentang diskusi yang memfokuskan pada komunitas pembelajaran oleh John Dewey memberi informasi betapa pentingnya pendidikan di sekolah. Bila peserta didik diberi kesempatan sama dengan arahan efektif, hal itu akan menjadi jaminan mereka akan bisa menjadi masyarakat yang baik, berguna, manis, dan harmonis.
Perubahan paradigma teori pembelajaran dari kognitif menuju konstruktif diyakini para ahli mampu membuat pengalaman baru peserta didik dalam proses belajar. Harapannya, sekolah mampu menciptakan generasi baru yang baik, berguna, manis, dan harmonis. Pendidikan dewasa ini menitikberatkan pembelajaran berpusat pada peserta didik daripada guru. Kenyataan di lapangan masih banyak guru yang seolah-olah mencekoki ilmu pengetahuan kepada peserta didik. Peserta didik dipandang sebagai objek yang tak memiliki apa-apa dan guru adalah sumber segala ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, peserta didik menjadi pasif.
Teori belajar yang mementingkan pemaknaan pengetahuan, proses hasil konstruksi-intruksi dan menitikberatkan pembelajaran pada peserta didik ini disebut konstruktivisme. Sebelumnya teori pembelajaran yang digunakan adalah kognitivisme dan behaviorisme. Kogntivisme, menekankan perubahan persepsi dan pemahaman, dan proses interksi. Sedang penekanan behaviorisme adalah pada perubahan tingkah laku yang didasarkan pada stimulus dan respons. Dengan kata lain, perubahan paradigma teori belajar diawali dari behaviorisme, kognitivisme, menuju konstruktivisme.
Menilik pembelajaran dari sudut pandang proses, bisa dilihat bahwa segala sesuatu yang berkaitan dengan peserta didik merupakan proses menuju sistem yang kita inginkan. Berikut hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran:
1. Orientasi pembelajaran berpusat pada peserta didik. Dengan orientasi pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, diharapkan mutu pembelajaran lebih berkualitas. Sebab, di dalam proses pembelajaran peserta didik membangun pengetahuan di dalam benaknya sendiri dan menjadikan pengetahuan miliknya sendiri. Dengan demikian, pengetahuan yang dibangun siswa benar-benar melekat tak sekadar paham setelah itu hilang.
2. Perhatian komprehensif pada peserta didik. Di sini guru hendaknya tak menutup mata terhadap permasalahan yang dialami peserta didiknya. Artinya, permasalahan peserta didik tak serta-merta ditangani BK/konselor, tetapi guru juga punya andil menyelesaiakannya.
3. Umpan balik, penguatan, dan motivasi. Umpan balik dan penguatan menjadi teknik yang tak bisa dilepaskan, sebab keduanya bisa memicu semangat dan motivasi peserta didik. Motivasi bisa dilakukan dengan percontohan. Banyak contoh motivasi bisa ditemukan di buku atau acara televisi. Misalnya Kick Andy, bagaimana seorang dari keluarga tak mampu akhirnya bisa mengentaskan diri menjadi sosok sukses.
Ketika sekolah memperkenalkan dan melatih setiap anak masyarakat ke dalam keanggotaan dalam komunitas kecil memenuhinya dengan semangat pelayanan, dan memberikan instrumen arahan diri yang efektif, kita akan memiliki jaminan yang terdalam dan terbaik bagi masyarakat yang lebih besar yang berguna, manis, dan harmonis. (John Dewey dalam Mark K. Smith).Kalimat tersebut tertulis di buku klasik yang membahas tentang diskusi yang memfokuskan pada komunitas pembelajaran oleh John Dewey memberi informasi betapa pentingnya pendidikan di sekolah. Bila peserta didik diberi kesempatan sama dengan arahan efektif, hal itu akan menjadi jaminan mereka akan bisa menjadi masyarakat yang baik, berguna, manis, dan harmonis.
Perubahan paradigma teori pembelajaran dari kognitif menuju konstruktif diyakini para ahli mampu membuat pengalaman baru peserta didik dalam proses belajar. Harapannya, sekolah mampu menciptakan generasi baru yang baik, berguna, manis, dan harmonis. Pendidikan dewasa ini menitikberatkan pembelajaran berpusat pada peserta didik daripada guru. Kenyataan di lapangan masih banyak guru yang seolah-olah mencekoki ilmu pengetahuan kepada peserta didik. Peserta didik dipandang sebagai objek yang tak memiliki apa-apa dan guru adalah sumber segala ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, peserta didik menjadi pasif.
Teori belajar yang mementingkan pemaknaan pengetahuan, proses hasil konstruksi-intruksi dan menitikberatkan pembelajaran pada peserta didik ini disebut konstruktivisme. Sebelumnya teori pembelajaran yang digunakan adalah kognitivisme dan behaviorisme. Kogntivisme, menekankan perubahan persepsi dan pemahaman, dan proses interksi. Sedang penekanan behaviorisme adalah pada perubahan tingkah laku yang didasarkan pada stimulus dan respons. Dengan kata lain, perubahan paradigma teori belajar diawali dari behaviorisme, kognitivisme, menuju konstruktivisme.
Menilik pembelajaran dari sudut pandang proses, bisa dilihat bahwa segala sesuatu yang berkaitan dengan peserta didik merupakan proses menuju sistem yang kita inginkan. Berikut hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran:
1. Orientasi pembelajaran berpusat pada peserta didik. Dengan orientasi pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, diharapkan mutu pembelajaran lebih berkualitas. Sebab, di dalam proses pembelajaran peserta didik membangun pengetahuan di dalam benaknya sendiri dan menjadikan pengetahuan miliknya sendiri. Dengan demikian, pengetahuan yang dibangun siswa benar-benar melekat tak sekadar paham setelah itu hilang.
2. Perhatian komprehensif pada peserta didik. Di sini guru hendaknya tak menutup mata terhadap permasalahan yang dialami peserta didiknya. Artinya, permasalahan peserta didik tak serta-merta ditangani BK/konselor, tetapi guru juga punya andil menyelesaiakannya.
3. Umpan balik, penguatan, dan motivasi. Umpan balik dan penguatan menjadi teknik yang tak bisa dilepaskan, sebab keduanya bisa memicu semangat dan motivasi peserta didik. Motivasi bisa dilakukan dengan percontohan. Banyak contoh motivasi bisa ditemukan di buku atau acara televisi. Misalnya Kick Andy, bagaimana seorang dari keluarga tak mampu akhirnya bisa mengentaskan diri menjadi sosok sukses.
Pendiri Microsoft yang telah menjadi salah satu orang terkaya di dunia, Bill Gates, menjual lima juta lembar sahamnya di Microsoft pada 27 Juli 2011 lalu. Gates menjual saham dengan harga masing-masing 27,59 dollar AS per lembar saham.
Bill Gates memang telah mundur dari kegiatan operasional di Microsoft sejak tahun 2008 untuk berkonsentrasi pada kegiatan amal lewat Yayasan Bill and Melinda Gates yang didirikan bersama istrinya. Dalam 12 bulan terakhir, ia telah menjual 90 juta lembar sahamnya di perusahaan perangkat lunak tersebut untuk tujuan amal. Meski demikian, Gates masih memiliki sekitar 500 juta lembar sahamnya di Microsoft.
Hasil penjualan saham selama ini digunakan Gates untuk kegiatan amalnya. Minggu ini, Gates dan Melinda akan mengalokasikan 42 juta dollar AS untuk membangun toilet flush di delapan perguruan tinggi dan di beberapa tempat di dunia untuk meningkatkan kesehatan masyarakat.
Gates juga mendukung penelitian dalam meningkatkan pendidikan. "Setiap siswa membutuhkan pendidikan tinggi untuk mendapatkan pekerjaan," ungkap Gates dalam pidatonya di Amerika Serikat, minggu lalu. Ia menyebut pendidikan sebagai jawaban untuk memperoleh pekerjaan di AS dan untuk mengurangi kemiskinan.
Majalah Forbes memperkirakan kekayaan Gates mencapai 56 miliar dollar AS atau sekitar Rp 500 triliun. Gates kini memang bukan orang pertama terkaya di dunia, masih di bawah kekayaan Carlos Slim, pengusaha telekomunikasi.
Gates dan teman lamanya, Warren Buffett, telah berjanji untuk memberikan sebagian besar kekayaan mereka untuk amal sebelum kematian mereka. Mereka juga telah meyakinkan sejumlah miliarder lainnya, termasuk pendiri Facebook, Mark Zuckerberg, untuk mengikuti langkah amal ini.
Sumber :
Guardian
Bill Gates memang telah mundur dari kegiatan operasional di Microsoft sejak tahun 2008 untuk berkonsentrasi pada kegiatan amal lewat Yayasan Bill and Melinda Gates yang didirikan bersama istrinya. Dalam 12 bulan terakhir, ia telah menjual 90 juta lembar sahamnya di perusahaan perangkat lunak tersebut untuk tujuan amal. Meski demikian, Gates masih memiliki sekitar 500 juta lembar sahamnya di Microsoft.
Hasil penjualan saham selama ini digunakan Gates untuk kegiatan amalnya. Minggu ini, Gates dan Melinda akan mengalokasikan 42 juta dollar AS untuk membangun toilet flush di delapan perguruan tinggi dan di beberapa tempat di dunia untuk meningkatkan kesehatan masyarakat.
Gates juga mendukung penelitian dalam meningkatkan pendidikan. "Setiap siswa membutuhkan pendidikan tinggi untuk mendapatkan pekerjaan," ungkap Gates dalam pidatonya di Amerika Serikat, minggu lalu. Ia menyebut pendidikan sebagai jawaban untuk memperoleh pekerjaan di AS dan untuk mengurangi kemiskinan.
Majalah Forbes memperkirakan kekayaan Gates mencapai 56 miliar dollar AS atau sekitar Rp 500 triliun. Gates kini memang bukan orang pertama terkaya di dunia, masih di bawah kekayaan Carlos Slim, pengusaha telekomunikasi.
Gates dan teman lamanya, Warren Buffett, telah berjanji untuk memberikan sebagian besar kekayaan mereka untuk amal sebelum kematian mereka. Mereka juga telah meyakinkan sejumlah miliarder lainnya, termasuk pendiri Facebook, Mark Zuckerberg, untuk mengikuti langkah amal ini.
Sumber :
Guardian